Cerita Bos Startup, Disambangi Petugas Pajak hingga Ditagih Dangdutan

0
178

JAKARTA, KOMPAS.com – Banyaknya perusahaan rintisan atau startup di dalam negeri yang terus tumbuh seiring dengan keberadaan digitalisasi menjadikan isu funding atau suntikan dana menjadi isu yang sensitif.

Banyak startup dengan nilai valuasi menengah ke atas kerap enggan berkomentar atau memberi jawaban terkait suntikan dana dari beberapa perusahaan pendanaan atau modal ventura serta total nilai valuasi perusahaannya lantaran persaingan dalam mendapatkan suntikan dana di lingkup startup cukup ketat.

Beberapa cerita kocak sempat dialami oleh para pendiri startup ketika mendapatkan suntikan dana dari investor tertentu.

Tak jarang terjadi miskomunikasi antara investor dengan startup yang bersangkutan. Hal tersebut pernah dialami oleh Bukalapak.

Pendiri sekaligus President Bukalapak M Fajrin Rasyid menceritakan, pada suatu waktu Bukalapak mendapatkan suntikan dana. Pihak investor dan Bukalapak sepakat untuk tidak menyebutkan jumlah pendanaan yang dikucurkan.

“Kami buat press release enggak nyebut angka, bilang saja kami menerima funding dari investor A, si investornya malah membuat rilis yang mengatakan telah melakukan funding dan ada angkanya,” ujar Fajrin di acara konferensi pers Endeavour Indonesia Impact Report di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Disambangi Petugas Pajak

Tak hanya perkara miskomunikasi dengan investor, bahkan pada suatu waktu Fajrin mengaku pernah disambangi petugas pajak setelah berita pendaan mereka tersebar di beberapa media nasional.

“Tiba-tiba ada tujuh sampai delapan orang (petugas) pajak ke kantor, kan harusnya pakai undangan dulu, ini tiba-tiba datang. Akhirnya ya sudah saya temui, mereka bilangnya silaturahim tanya-tanya ingin tahu lebih lanjut soal funding,” ujar Fajrin.

Fajrin pun menjelaskan kepada petugas pajak tersebut bahwa pendanaan yang mereka dapatkan merupakan investasi, bukan keuntungan yang mereka dapatkan dari bisnis yang dijalankan.

“Kecuali kalau ada aksi jual saham Bukalapak yang ada keuntungannya itu akan saya bayarkan PPn (Pajak Penghasilan)nya,” ujar dia.

“Akhirnya setelah saya jelaskan mereka pulang,” ujar dia.

Ditagih Dangdutan oleh Nelayan

Ghibran Huzaifah yang merupakan pendiri sekaligus CEO dari eFishery memiliki cerita berbeda. Ghibran menceritakan, suatu waktu ketika perusahaannya mendapat suntikan dana dari investor.

Pun kebetulan mendapatkan sorotan dari media. Nelayan-nelayan yang menggunakan layanannya tiba-tiba menagihnya untuk mengadakan sebuah acara.

Pasalnya, mereka tidak memahami jika suntikan dana tersebut untuk pengembangan perusahaan.

“Mereka enggak nangkep kan, kalau dapet duit itu taunya bisa foya-foya bisa dangdutan,” ujar dia.

Lantaran bekerja dengan nelayan yang umumnya belum terliterasi secara digital, kerap kali Ghibran juga harus benar-benar memulai memperkenalkan dunia digital dari nol kepada para nelayan.

“Pertama kali nelayan berinteraksi dengan smartphone itu ya dari aplikasi eFisheri, sebelumnya mereka kita ajari pakai Facebook dulu, kita ajarin Youtube, kita bikinin akun WhatsApp, bahkan e-mail-nya kita yang bikinin,” ujar dia.

Bahkan, eFishery pun memiliki database tersendiri yang berisi email dan password para nelayan lantaran mereka kerap kali lupa.

“Jadi kalau ada investor yang nanyain soal data privacy ya gimana orang email nelayan passwordnya kita yang pegang,” kelakar Ghibran.

Sebagai catatan, Ghibran dan Fajrin merupakan entrepreneur yang masuk di dalam dafatr Endeavour Entreprenur: The Faces of Impact. Mereka dipercaya sebagai pengusaha yang tidak hanya memberikan dampak berupa kalkukasi angka-angka, tetapi juga memberikan perubahan di tingkat akar rumput.

Mereka adalah pengusaha perusahaan rintisan yang berhasil meningkatkan kualitas perusahaan mereka dengan menggunakan teknologi untuk menyelesaikan masalah-massalah sosial.

Endeavor Indonesia mencatatkan, setidaknya saat ini terdapat 43 Entrepreneur Endeavor yang memimpin 35 perusahaan termasuk Bukalapak, efishery, Kata.ai, Qlue, CRP Group (Upnormal, Nasi Goreng Mafia, etc.), Puyo Desserts, Investree, Female Daily Network, Brodo, The Goods Group, Sorabel, dan lain-lain.

Dari ke 43 perusahaan tersebut telah berhasil membukukan pendapatan hingga Rp 31,5 triliun dan menciptakaan setidaknya 10.100 pekerjaan.