Disebut hindari pajak lewat pembayaran royalti, ini penjelasan Bentoel Group

0
234

Pabrik produsen rokok PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA). Foto Dok RMBA

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bentoel International Investama Tbk (Bentoel Group) merespons laporan lembaga Tax Justice Network tentang adanya dugaan praktik penghindaran pajak di Indonesia oleh British American Tobacco (BAT) Group melalui emiten berkode RMBA ini. 

Salah satu cara penghindaran pajak tersebut adalah melalui pembayaran untuk royalti, ongkos teknis dan konsultasi, serta biaya IT dengan total US$ 19,7 juta per tahun.

Corporate Secretary Bentoel Group Dinar Shinta Ulie mengatakan, semua pembayaran royalti dan biaya lainnya telah memperhatikan aspek kewajaran dan kelaziman usaha. 

“Perseroan melakukan pembayaran royalti atas penggunaan merek dagang dan penyediaan layanan tertentu di mana hal ini adalah wajar untuk dilakukan perseroan sebagai bagian dari BAT Group yang berkantor pusat di Inggris,” kata dia dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (24/5).

Sebagai informasi, biaya tersebut digunakan untuk membayar royalti ke BAT Holdings Ltd untuk penggunaan merek Dunhill dan Lucky Strike sebesar US$ 10,1 juta, membayar ongkos teknis dan konsultasi kepada BAT Investment Ltd sebesar US$ 5,3 juta, dan membayar biaya IT British American Shared Services (GSD) Limited sebesar US$ 4,3 juta.

“Dalam beberapa tahun terakhir, hal ini secara signifikan memperburuk kerugian Bentoel di Indonesia. Biaya gabungan dari pembayaran ini setara dengan 80% dari kerugian perusahaan sebelum pajak pada tahun 2016,” tulis laporan tersebut. 

Dengan demikian, pajak perusahaan rata-rata atas pembayaran setiap tahun dengan suku bunga 25% sebesar US$ 2,5 juta untuk royalti, US$ 1,3 juta untuk ongkos, dan US$ 1,1 juta untuk biaya IT.

Kemudian, dengan adanya perjanjian Indonesia-Inggris, maka potongan pajak untuk royalti atas merek dagang adalah sebesar 15% dari US$ 10,1 juta atau sebesar US$ 1,5 juta. Sementara itu, ongkos layanan teknis tidak dikenakan pemotongan. 

Kemudian, biaya IT tidak disebutkan dalam perjanjian. Namun, karena mirip dengan royalti, laporan tersebut mengasumsikan potongan pajak biaya IT sebesar US$ 0,7 juta.

Dengan perhitungan ini, pendapatan yang hilang dari Indonesia mencapai US$ 2,7 juta per tahun karena pembayaran royalti, ongkos dan biaya IT BAT kepada perusahaan-perusahaannya di Inggris. Secara rinci, pajak royalti hilang sebesar US$ 1 juta per tahun, pajak perusahaan US$ 1,3 juta per tahun, dan pajak biaya IT sebesar US$ 0,4 juta per tahun.

Di samping itu, BAT Group melalui emiten berkode RMBA ini juga diduga melakukan penghindaran pajak senilai US$ 11 juta per tahun melalui pinjaman intra perusahaan. 

Bentoel Group mendapat pinjaman sebesar Rp 5,3 triliun atau setara US$ 434 juta pada Agustus 2013 dan Rp 6,7 triliun atau setara US$ 549 juta pada 2015 dari perusahaan terkait di Belanda, yakni Rothmans Far East BV.

Di sisi lain, Dinar mengatakan bahwa nilai investasi BAT Group lebih besar dari total pembayaran royalti dan pembayaran bunga atas fasilitas pinjaman intra perusahaan yang sebesar Rp 3,1 triliun.

“Nilai investasi BAT Group adalah lebih besar sekitar enam kali lipat jika dibandingkan dengan total pembayaran royalti dan pembayaran bunga atas fasilitas pinjaman intra-perusahaan,” ucap dia.

Sepanjang periode 2010-2018, total investasi BAT Group dalam bentuk penanaman modal di Indonesia telah mencapai hampir Rp 18,3 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari investasi BAT Group sebesar Rp 13,2 triliun saat RMBA melaksanakan rights issue pada 2016, ditambah dengan nilai akuisisi Bentoel Group oleh BAT Group pada 2009.

Menurut Dinar, sampai saat ini BAT Group tidak pernah menerima pembayaran dividen terkait dengan investasinya di Indonesia. “Hal ini menunjukkan komitmen BAT Group untuk memastikan keberlangsungan perseroan di tengah tantangan persaingan yang semakin ketat di industri tembakau,” ungkap dia.