IMF: Kebijakan ekonomi yang tepat jadi kunci di tengah perlambatan global

0
288

Warga menyebrang menggunakan fasilitas Pedestrian Light Controlled Crossing (Pelican Crossing) di Halte GBK, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, Kamis (22/11/2018). Pelican Crossing tersebut difungsikan sebagai pengganti Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) yang sedang direvitalisasi. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp.

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dana Moneter Internasional alias International Monetary Fund (IMF) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Dalam laporan terbarunya World Economic Outlook 2019 edisi April, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari sebelumnya 3,5% menjadi 3,3% untuk tahun 2019.

Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath menyebut, langkah pemerintah dan bank sentral dalam menentukan kebijakan di tengah kondisi pelemahan ini merupakan hal yang krusial. Keterbatasan ruang fiskal dan moneter ditengarai akan memperburuk realisasi dari risiko perlambatan ekonomi ini.

Di tengah ketidakpastian ekonomi dan arah kebijakan, pemerintah diharapkan menjaga iklim investasi di negaranya masing-masing.

Kebijakan fiskal, menurut Gopinath, mesti tetap seimbang antara memenuhi kebutuhan dan memastikan rasio utang tetap pada jalur yang aman dan berkelanjutan, sesuai dengan kondisi spesifik masing-masing negara.

Selain itu, stimulus fiskal juga mesti ditujukan untuk meningkatkan kepercayaan rumah tangga dan bisnis, sekaligus mampu memitigasi kebocoran anggaran melalui impor. “Meningkatkan penargetan subsidi, merasionalisasi pengeluaran berulang (recurring expenditures), dan memobilisasi pendapatan dapat membantu menghemat pengeluaran modal yang diperlukan untuk mendorong potensi pertumbuhan, maupun pengeluaran sosial untuk meningkatkan inklusi,” terang IMF.

Di sektor keuangan, IMF menyarankan agar kebijakan secara proaktif ditujukan untuk mencegah kerentanan dengan menerapkan alat-alat kebijakan makroprudensial.

“Kebijakan moneter harus tetap bergantung pada data (data-dependent), dikomunikasikan dengan baik, dan memastikan ekspektasi inflasi tetap terkendali,” ujar Gopinath dalam pengantar laporan tersebut.

Secara umum, pemerintah perlu mengambil sikap dan kebijakan yang mendorong potensi produksi (output), meningkatkan inklusivitas, dan memperkuat ketahanan ekonomi. Kebutuhan terhadap kerja sama multilateral pun menjadi semakin besar, terutama untuk mengatasi berbagai konflik seperti perdagangan, perubahan iklim, risiko keamanan siber, hingga meningkatkan efektivitas sistem perpajakan internasional.

“Ini adalah tahun yang sulit bagi perekonomian global. Jika risiko penurunan tidak terwujud dan kebijakan yang diambil tepat dan efektif, pertumbuhan global akan kembali menjadi 3,6% pada tahun 2020,” lanjut Gopinath.

Oleh karena itu, IMF menekankan, kemampuan pemerintah dan bank sentral untuk menyesuaikan diri akan menjadi penentu perkembangan ekonomi setiap negara dalam menghadapi kondisi global saat ini.

Selain memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global, IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan emerging market dan negara dengan ekonomi berkembang dari sebelumnya 4,5% menjadi 4,4% di tahun ini.

Pertumbuhan ekonomi ASEAN-5 yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand juga diprediksi lebih rendah, yaitu 5,1% dari sebelumnya diprediksi 5,2% di tahun 2019.