Kenaikan rasio intermediasi jadi upaya BI mendorong pertumbuhan ekonomi

0
338

Pertumbuhan Ekonomi —— Pejalan kaki melintas dekat logo Bank Indonesia (BI) di gedung BI, Jakarta, Rabu (24/10). BI memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2018 tak sekuat capaian kuartal II 2018. Ekonomi pada kuartal III hanya tumbuh sekitar 5,1%. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/24/10/2018

KONTAN.CO.ID – YOGYAKARTA. Bank Indonesia (BI) memutuskan meningkatkan rasio intermediasi makroprudensial (RIM) dari 80%-92% menjadi 84%-92%. Dengan kebijakan baru ini, perbankan bisa menyalurkan kredit mencapai 94%. Kebijakan BI ini sebagai bagian strategi mendorong pertumbuhan ekonomi.

BI melihat perlambatan pertumbuhan ekonomi global  menyebabkan kinerja ekspor dan impor Indonesia jadi terdampak. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia IGP Wira Kusuma mengatakan, kondisi tersebut tersebut bisa membuat ekspor Indonesia bisa melambat. Sehingga pelebaran defisit transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) menjadi tantangan utama saat ini.

“Maka pertumbuhan ekonomi kita mengandalkan permintaan domestik yaitu konsumsi dan investasi,” jelas Wira saat memberi materi kepada para wartawan di Hotel JW Marriot Yogyakarta, Sabtu (23/3).

Untuk itu, dalam keputusan BI menahan suku bunga di level 6%, BI juga mengeluarkan kebijakan baru. Antara lain meningkatkan RIM dari 80%-92% menjadi 84%-92%. Dengan kebijakan baru ini, perbankan bisa menyalurkan kredit mencapai 94%. “Ini untuk permintaan domestik dari sisi pembiayaan,” jelas Wira.

Kebijakan ini dapat mendorong perekonomian domestik, dengan mencegah perbankan prosiklus. Dalam artian, perbankan tetap didorong memberi kredit dengan batas bawah yang tadinya 80% menjadi 84%. Apabila kredit yang diberikan di bawah batas tersebut, maka bank dikenakan tambahan giro. Sedangkan batas atas dilonggarkan supaya kredit juga bisa diberikan semakin tinggi.

Selain itu, BI meningkatkan ketersediaan likuiditas dengan membuat lelang termrepo reguler yang terjadwal disamping forex (fx) swap. Juga mengakselerasi pasar keuangan serta membuat QR Indonesia Standar (QRIS).

Sekadar informasi, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini, dari 3,7% menjadi 3,5%. Hal yang sama terjadi pada ekonomi Amerika Serikat (AS) yang diproyeksikan hanya tumbuh 2,5%, turun dari tahun lalu yang tercatat 2,9%. Sementara ekonomi China diprediksi tumbuh 6,2% dari proyeksi awal 6,4%.

Perlambatan tersebut cenderung memberi sentimen positif terhadap aliran modal asing di negara berkembang. Perlambatan pertumbuhan ekonomi membuat bank sentral beberapa negara cenderung dovish, sehingga modal asing kembali masuk ke negara berkembang.