Likuiditas Bank di RI Ketat, Bunga Bisa Naik?

0
250

Jakarta – Kondisi likuiditas perbankan nasional saat ini disebut Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih baik.

Namun dari data statistik perbankan Indonesia (SPI) Desember 2018 loan to deposit ratio (LDR) atau rasio penyaluran kredit terhadap dana pihak ketiga (DPK) tercatat 94,78% angka ini terus meningkat sejak 2015 yang hanya 92,11%.

Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perbankan OJK Boedi Armanto menjelaskan untuk likuiditas di Indonesia tergantung dari beberapa faktor. Misalnya untuk di luar negeri bisa tercermin dari current account deficit (CAD).

“Apakah ekspor masih lebih kecil daripada impor? Apakah tidak ada investasi dari luar negeri baik yang short ke saham atau long ke riil?, apakah tak ada pinjaman luar negeri? Apakah jumlah TKI semakin banyak, apakah ada bunga Fed dan perang dagang AS China mereda?,” ujar Boedi saat dihubungi detikFinance, Selasa (26/2/2019).

Dia menjelaskan, untuk kondisi dari dalam negeri bisa dari level suku bunga acuan, capaian pajak, selain itu kondisi surat berharga negara (SBN) yang hasil penjualannya dibelanjakan ke barang atau jasa. Lalu kondisi devisa di dalam negeri.

Jadi beberapa variabel di atas sangat mempengaruhi likuiditas perbankan. “Kalau likuiditas mengetat maka suku bunga deposito tentu akan naik, dan akhirnya suku bunga kredit juga akan naik,” ujar dia.

Dari data SPI untuk bank umum kategori usaha (BUKU) I LDR tercatat 92,27% contoh bank yang masuk dalam kategori ini adalah PT Prima Master Bank, PT Bank Fama Internasional dan PT Bank Kesejahteraan Ekonomi, kemudian BUKU II LDR nya tercatat 94,03% contoh bank kategori ini adalah PT Bank Mandiri Taspen dan Bank Shinhan.

Selanjutnya untuk LDR bank BUKU III tercatat 103,37% bank kategori ini adalah OCBC NISP, Bank Tabungan Negara dan KEB Hana Indonesia. Sementara itu untuk bank BUKU IV memiliki LDR sebesar 89,9% bank dalam kategori ini adalah Bank Central Asia, Bank Negara Indonesia dan Bank Rakyat Indonesia hingga Bank Mandiri.