Pertumbuhan ekonomi AS melambat, RI perlu cari pasar baru

0
248

Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Presiden Direktur Mayora Group Andre Atmaja (kedua kanan) melihat langsung pengemasan produk Mayora di sela acara Pelepasan Kontainer Ekspor ke 250 ribu ke Filipina di Bitung, Tangerang, Banten, Senin (18/2/2019). Hingga saat ini Mayora Group sudah mampu mengekspor produk makanan dan minuman asli dalam negeri ke seratus negara yang mampu mebuktikan produk Indonesia berkelas dunia. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/foc.

KONTAN.CO.ID –  JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memprediksi Amerika Serikat (AS) akan terus mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Setelah tumbuh 2,9% di tahun lalu, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS hanya tumbuh 2,3%.

Dampaknya, ekspor Indonesia ke AS akan tertekan. Terutama untuk ekspor industri manufaktur. “Memang AS masih pasar terbesar manufaktur mesin, elektronik, dan garmen,” jelas Gubernur BI Perry Warjiyo di Hotel Dharmawangsa, Senin (4/3).

Sehingga, Indonesia perlu ekstra usaha untuk menembus pasar AS. Serta mencari pasar baru untuk industri manufaktur antara lain India, Bangladesh dan Afrika.

Kondisi ini berbeda dengan tahun lalu saat ekonomi AS tumbuh tinggi. Sepanjang 2018, Indonesia justru mengalami tekanan dari sisi finansial. Saat The Fed cukup agresif menaikkan suku bunga, arus modal asing keluar dari emerging maket.

Namun, pada triwulan IV-2018, Indonesia berhasil menarik kembali dana asing masuk. Dan diperkirakan The Fed hanya menaikkan suku bunganya satu kali sepanjang tahun ini. “Dampak jalur keuangan tidak seberat tahun lalu. Lebih banyak implikasi di sektor riil,” imbuh Perry.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), negara tujuan ekspor non-migas terbesar Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat dan Jepang dengan porsi 35,90%. Ekspor non-migas ke Tiongkok mencapai 15%, meningkat dari tahun 2017 yang tercatat 13,95%.