Potensi shortfall pajak melebar, ini tiga penyebabnya

0
154

Ilustrasi pajak pph. KONTAN/Baihaki/20/10/2016

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Potensi shortfall penerimaan pajak semakin melebar bila melihat realisasi penerimaan yang masih seret. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal.

Berdasarkan data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) realisasi sampai akhir Oktober 2019 penerimaan pajak sebesar Rp 1.018,47 triliun atau setara 65,56% dari target akhir tahun sebesar Rp 1.577,56 triliun. Artinya penerimaan pajak masih kurang Rp 559,09 triliun.

Direktur Potensi, Kepatuhan, Penerimaan Pajak Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Yon Arsal mengatakan potensi shortfall pajak berada di rentang Rp 140 triliun-Rp 200 triliun Yon mengatakan setidaknya ada tiga hal yang mempengaruhi penerimaan pajak sehingga shortfall melebar.

Pertama, adanya restitusi pajak atau pengembalian pajak yang besar, ditambah adanya langkah Kemenkeu melakukan restitusi dipercepat dengan hasil yang meningkat. Yon mengaku di awal tahun restitusi tumbuh hingga 70% year on year (yoy), mulai melandai di akhir Oktober menjadi 12,4% secara tahunan. 

Kedua, faktor pertumbuhan ekonomi global yang melambat. Hal tersebut setidaknya terlihat dari aktivitas ekspor yang turun. Pertumbuhannya minus 7% dari target 23%. “Padahal kontribusinya 18% ke penerimaan,” kata Yon, Senin (25/11).

Ketiga, harga komoditas yang belum menunjukkan perbaikan secara signifikan. Meski demikian, perbaikan harga crude palm oil (CPO) dan batubara saat ini terjadi transmisi di mana baru berdampak terhadap penerimaan pajak paling cepat Desember 2019-Januari 2020.

Namun, Yon bilang Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 bisa menjadi jurus pengamanan penerimaan pajak sebagai baseline di luar dari extra effort karena terjadi perbaikan.  Adapun realisasi PPh pasal 21 sepanjang kuartal III-2019 terkoreksi 0,82%, sementara pada akhir Oktober 2019 tumbuh 10,42%.

“Artinya aktivitas perekonomian di PPh 21 ada harapan. PHK besar-besaran belum tercermin di penerimaan kita,” terang Yon.

Harapan selanjutnya berasal dari kinerja sektor perbankan di mana akhir tahun biasanya terjadi pertumbuhan dan perbaikan kredit. Kemudian juga dari sektor jasa angkutan transportasi terus berkembang.

Secara keseluruhan, Yon mengaku penerimaan pajak tertekan karena kondisi makro ekonomi internal yang diakibatkan sentimen global. Namun, pihaknya terus melakukan ekstra effort mengejar penerimaan pajak agar shortfall tidak terlalu melebar. 

“Pelayanan dan pengawasan terus kita lakukan, biasanya di dua bulan terakhir mudah-mudahan trennya positif berlanjut ada perbaikan. Jadi bisa minimalisasi risiko penerimaan yang lebih dalam,” kata Yon.