Realisasi Bea Keluar Melejit 888% Disokong Ekspor Tembaga dan Sawit

0
70

Realisasi bea keluar per Juli 2021 tercatat melesat hingga 888,7%. Kondisi ini didukung menguatnya ekspor komoditas tembaga dan kelapa sawit.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bea keluar dari ekspor komoditas tembaga tercatat tumbuh hingga 210,9%, menyusul kenaikan volume ekspor.

“Untuk kelapa sawit tumbuh luar biasa tinggi, 2.945%, terutama karena tarif bea keluar yang lebih besar pada 2021 dan pengenaan bea keluar pada produk turunan kelapa sawit,” ujar Sri Mulyani, Rabu (25/8/2021).

Meski demikian, sumbangsih bea keluar ekspor komoditas lain seperti kakao, kayu, dan kulit tercatat masih tertekan. Penurunan kontribusi bea keluar ekspor dari komoditas tersebut disebabkan anjloknya volume ekspor kakao dan penurunan tarif bea keluar atas komoditas veneer per tahun ini.

Secara total, realisasi bea keluar sepanjang 2021 hingga Juli dilaporkan mencapai Rp15,87 triliun. Perinciannya, realisasi bea keluar tercatat mampu melampaui Rp2 triliun setiap bulannya terhitung sejak Maret 2021.

Realisasi bea keluar bulanan tertinggi terjadi pada Mei 2021 dengan nilai sebesar Rp3,12 triliun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Mei 2020 yang memiliki realisasi bea keluar hanya sekitar Rp140 miliar.

Tak hanya bea keluar, bea masuk tercatat mampu tumbuh hingga 9,2% per Juli 2021 yang didukung pertumbuhan dari sektor manufaktur dan sektor perdagangan. “Bea masuk kontributor terbesar adalah sektor pengolahan dan perdagangan untuk impor bahan baku, barang modal, dan bahan konsumsi,” ujar Sri Mulyani.

Menguatnya sektor manufaktur dan perdagangan juga tercermin dari sisi penerimaan pajak. Per Juli 2021, tercatat penerimaan pajak dari sektor manufaktur mampu tumbuh hingga 12,7%. Sedangkan sektor perdagangan mampu tumbuh hingga 14,6%. Kedua sektor ini memiliki kontribusi sebesar 52,2% terhadap total penerimaan pajak.