Saham Asia nyaris tidak berkutik karena khawatir situasi ekonomi global

0
293

KONTAN.CO.ID -SYDNEY. Saham Asia nyaris tidak berkutik pada hari Senin (11/2), lantaran para investor masih khawatir terhadap pertumbuhan ekonomi global, politik Amerika Serikat (AS) dan perang dagang Sino-AS. Hal ini membuat Dolar di negara safe haven menjadi yang tertinggi selama enam minggu terakhir terhadap mata uang utama.

Melansir Reuters (11/2), Indeks saham China mulai terangkat saat pembukaan bursa pasca rehat selama satu minggu. Keuntungan mulai datang setelah Kementerian Perdagangan mengatakan pendapatan ritel selama libur Tahun Baru Imlek melonjak 8,5% dari periode tahun lalu, meski pertumbuhan negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu melambat.

Indeks blue chip China tercatat melonjak 1,6% sementara Shanghai SSE Composite naik 1,2%. Saham Australia juga berhasil menutup kerugian dengan penutupan 0,2% lebih rendah, sementara indeks KOSPI Korea Selatan naik 0,2%. Adapun, benchmark di Indonesia dan India kini berada di zona merah.

Fakta ini membuat indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang sedikit menguat setelah dijatuhkan dari posisi teratas selama empat bulan pada hari Jumat (8/2) lalu. Volume perdagangan terpantau sepi, seiring dengan hari libur di Jepang.

“Saya tidak meragukan hal ini akan berubah di minggu ini, dengan hubungan dagang masih menjadi pusat kekhawatiran,” kata Chris Weston, Kepala Peneliti Broker di Melbourne Pepperstone.

Ketegangan antara AS dan China telah merugikan kedua negara hingga miliaran dolar dan mengguncang pasar keuangan global. Babak baru pembicaraan perdagangan akan dimulai hari ini, yang melibatkan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin pada hari Kamis dan Jumat mendatang.

Namun, jika negosiasi ini tidak membuahkan hasil. Maka pada 1 Maret 2019, AS bakal mematangkan niat menaikkan tarif impor US$ 200 miliar ke Tiongkok menjadi 25% dari sebelumnya 10%.

“Ketidakpastian perdagangan yang dipimpin AS bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran tentang tingkat perlambatan pertumbuhan global saat ini berdampak pada peningkatan permintaan obligasi inti global,” kata Rodrigo Catril, pakar strategi valas National Australia Bank.

Di samping itu ketidakpastian itu, Rodrigo menyebut langkah Fed untuk menahan bunga acuannya terus membuat Dolar memenangkan kontes yang buruk ini.Sebelumnya, pihak Bank Sentral AS mengisyaratkan tingkat bunga stabil tahun ini setelah melakukan empat kenaikan di 2018. Langkah ini sedikit memberi bantalan bagi AS untuk mengurangi resiko perlambatan ekonomi global.

Data mencatat, indeks Dolar AS bertengger di nilai tertinggi dalam enam minggu terakhir sekitar 96,695 terhadap sekeranjang mata uang. Hal ini membuat dana para pelaku pasar menumpuk di safe haven.