Sri Mulyani: Kalau Saya Bicara Pajak Tinggi, Wajah Anda Beku…

0
214

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan lebih hati-hati membicarakan penerimaan pajak yang tinggi. Hal itu lantaran masih “alerginya” sebagian masyarakat Indonesia bila mendengar dan membicarakan penarikan perpajakan. “Kami sebagai pengelola fiskal diharapkan untuk hati-hati, karena saya berhadapan dengan investor seperti Anda,” ujarnya dalam acara Asian Insight Conference di Jakarta, Kamis (31/1/2019). “Kalau saya bicara penerimaan pajak tinggi wajah anda frozen (beku) dan tidak happy,” sambung Sri Mulyani.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan, pihaknya lebih mencari titik kebahagiaan yang optimal antara wajib pajak dan pemerintah. Sri Mulyani melanjutkan, titik kebahagiaan itu berupa penarikan pajak di satu sisi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sedangkan di sisi lain, pemerintah juga memberikan berbagai insentif pajak. Perempuan yang kerap disapa Ani itu juga mengatakan, reformasi perpajakan tetap akan dilanjutkan. Pelayanan pajak di Direktorat Jenderal Pajak juga terus ditingkatkan agar menjadi lebih baik. Baca juga: Ekonom: Masyarakat Kerap Keliru Pahami Utang Negara Diharapkan dengan upaya perbaikan itu, penerimaan pajak bisa naik. Meski begitu peningkatan penerimaan pajak juga harus diiringi dengan peningkatan integritas petugas pajak. “Integrity jadi kemampuan yang penting. Ini bukan hanya naik turunin  rate pajak sehingga tax ratio naik,” kata dia. Realisasi penerimaan negara memang mencapai target pada 2018, namun tidak dari sisi pajak. Realisasi penerimaan pajak sepanjang tahun 2018 hanya Rp 1.316 triliun. Penerimaan pajak pada 2018 itu mencapai 92,4 persen dari target di APBN Rp 1.424 triliun. Rincian penerimaan pajak yakni PPh Migas Rp 64,7 triliun dan PPh Non Migas Rp 1.251,2 triliun. Masing-masing tumbuh 28,6 persen dan 13,7 persen dari 2017. Hal berbeda justru terjadi di penerimaan bea dan cukai yang melebihi target di APBN 2018. Total penerimaannya mencapai Rp 205,5 triliun, atau 106 persen dari target.